Sedikit Tentang Etika (1)
Dalam bahasa yang agak berat, etika didefinisikan sebagai cabang Aksiologi (Filsafat Nilai) yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai “benar” (right), dan “salah” (wrong) dalam arti “susila” (moral) dan “tidak susila” (immoral). Definisi yang lebih ringan dan gampang dicerna, etika sering juga disebut filsafat moral adalah upaya untuk mensistematisasikan pengetahuan tentang hakikat moralitas dan apa yang dituntut dari kita, meminjam kata-kata Sokrates, tentang “bagaimana seharusnya kita hidup” dan mengapa demikian.
Untuk apa kita perlu etika?
Thomas Hobbes mengemukakan empat fakta menarik tentang sifat dasar manusia,
- Pertama, ada fakta bahwa mereka sama-sama mempunyai kebutuhan dasar. Masing-masing kita membutuhkan hal-hal dasar yang sama supaya hidup (makanan, pakaian, perlindungan). Meskipun dalam sejumlah kebutuhan itu kita berbeda-beda, namun secara hakiki kita semua amat mirip.
- Kedua, ada fakta berkekurangan. Kita tidak hidup dalam taman Firdaus, dimana mengalir sungai susu dan setiap pohon menyediakan buah yang banyak. Dunia itu keras, tempat yang tidak nyaman, dimana hal-hal yang kita butuhkan untuk bertahan hidup tidak ada secara berlebihan. Kita harus bekerja keras untuk menghasilkannya, bahkan lebih dari itu, sering yang ada tidak cukup untuk semua.
- Jikalau tidak cukup barang-barang pokok untuk dibagi-bagi, siapakah yang boleh memperolehnya? Karena masing-masing dari kita ingin hidup, dan sedapat mungkin hidup yang berkecukupan, maka masing-masing orang akan menginginkan sebanyak mungkin yang bisa diperoleh. Tetapi dapatkan kita mengalahkan yang lain, yang juga menginginkan barang-barang yang langka itu? Menurut Hobbes tidak, fakta ketiga adalah kesamaan hakiki dari daya manusiawi. Tak seorang pun lebih unggul dari yang lain, dalam kekuatan dan kecerdikannya, sampai ia dapat mengatasi yang lain terus menerus. Tentu saja beberapa orang lebih baik dan lebih kuat, tetapi bahkan yang terkuat pun dapat dihancurkan oleh beberapa orang lain yang bertindak secara bersama-sama.
- Jikalau kita tidak dapat berhasil dengan kekuatan kita sendiri, harapan apakah yang dapat kita miliki? Dapatkah kita misalnya mengandalkan diri pada karitas atau kehendak baik dari orang lain untuk menolong kita? Kita tidak dapat. Fakta keempat adalah altruisme terbatas. Bahkan kalaupun orang tidak seluruhnya mementingkan dirinya sendiri, namun mereka sangat peduli mengenai diri sendiri, dan kita tidak bisa mengandaikan begitu saja bahwa ketika kepentingan vital kita bertabrakan dengan kepentingan vital mereka, mereka mau mengalah.
Dari fakta tersebut, kita akan selalu berada dalam semacam kompetisi dalam pemenuhan kebutuhan vital, (dewasa ini berkembang dalam semua aspek kehidupan manusia). Akibatnya menurut Hobbes, tercipta suatu “keadaan perang terus menerus”, antara satu dengan semua. Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain). Untuk mencegah dan membatasi keadaan alamiah (state of nature) manusia tersebut, diperlukan seperangkat aturan, yang merancang bagaimana seharusnya orang saling memperlakukan satu sama lain, dan dapat diterima secara rasional demi keuntungan bersama.
Jadi, seperti apa etika itu?
Konsep sederhana dari etika adalah, setidak-tidaknya merupakan usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal, yakni untuk melakukan apa yang paling baik menurut akal (sehat), seraya memberi bobot yang sama menyangkut kepentingan setiap individu yang akan terkena oleh tindakan itu.
Sumber:
Kattsoff, LouisO., 1996, Pengantar Filsafat ( judul asli Elements of Philosophy, Penerjemah Soejono Soemargono, The Ronald Press Company, NewYork), Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta
Rachels, J., 2004, Filsafat Moral (judul asli The Elements of Moral Philosophy, McGraw-Hill Companies, Inc., New York), Penerbit Kanisius, Yogyakarta
